• 7

    Mar

    Bandung Deui!

    Beberapa kota besar Indonesia sejak lima tahun belakangan ini mengalami perubahan peta kuliner yang cukup gegap gempita. Bandung adalah salah satunya. Setiap kali datang ke Bandung, selalu ada tempat makan yang baru dibuka maupun yang baru ditemukan. Artinya, selalu ada alasan untuk datang ke Bandung. Kunjungan terakhir ke Bandung menyingkap beberapa temuan yang bersifat kejutan manis. Bandung, euy! Kejutan pertama saya temukan di Kantin Sakinah referensi dari Adi Taroepratjeka. Teman-teman langsung bersamaan berseru: Wah, ini kantin yang sakinah, warrohmah, mawardah. He he he, mungkin mereka ingat saat akad nikah dulu. Ini sebuah kantin tempat mangkal berbagai penjual makanan dan minuman, berlokasi di kaki Dago. Salah satu penjual di situ adalah Mang Aip yang menjajakan es duren.
  • 7

    Mar

    Ke Bandung Lewat Pinggiran

    Jalan tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) membuat Jakarta-Bandung seperti tak berjarak lagi. Beberapa kali saya berangkat dari Semanggi di Jakarta Selatan dan tiba di pintu tol Pasteur, Bandung, dua jam kemudian. Padahal, pada saat-saat macet, jarak dari Semanggi hingga ke rumah saya di Sentul City seringkali juga harus ditempuh dalam waktu dua jam. Semula banyak orang beranggapan bahwa dengan hadirnya jalan tol itu, maka hotel-hotel di Bandung akan sepi, mengingat banyak orang dapat pergi-pulang tanpa menginap. Nyatanya, setelah jalan tol itu beroperasi, semakin banyak pula hotel baru bermunculan di Bandung. Yang jelas, banyak tempat-tempat makan di lintasan lama yang kini kehilangan para tamunya. Bahkan banyak yang terpaksa melakukan downsizing. Rumah Makan Alam Sari, misalny
  • 25

    Feb

    Bandung Kota Kuliner

    Belum lama ini saya ikut serta dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Departemen Perdagangan dalam rangka Pekan Produk Budaya. Seorang peserta seminar menyatakan bahwa Bandung adalah Kota Kuliner. Setiap akhir pekan warga Jakarta ngadem ke Bandung, tidak hanya memborong dagangan factory outlets yang bertebaran di sana, melainkan juga berburu makanan. Peta kuliner Bandung memang sepermai kotanya, serta sangat dinamis. Tiap kali kita datang ke Bandung, selalu saja ada tambahan tempat makan baru yang menarik dan menantang untuk dicoba. Sekalipun bondong-bondong kedatangan warga Jakarta ke Bandung di akhir pekan membuat lalulintas kota ini menjadi semrawut dan macet, tetapi justru kehadiran warga Ibukota Negara-lah yang telah mewarnai ekonomi Bandung secara nyata. Minggu ini saya sempat k
  • 23

    Feb

    Ketupat Kandangan dan Lontong Orari

    Sudah terlalu lama saya tidak berkunjung ke Banjarmasin. Entah kenapa, kota yang satu ini agak jarang masuk ke dalam layar radar saya. Kalau dulu saya selalu terpesona dengan berbagai hidangan itik (bebek) di kota ini, rupanya bebek-bebek yang sudah makin membebek di berbagai kota Nusantara sudah jauh meninggalkan kualitas masakan itik Banjarmasin yang masih begitu-begitu saja. Mungkin sekali saya sudah terlanjur bias alias opinionated dalam hal ini. Bagi saya saat ini, hanya ada satu bebek yang top markotop. Tempatnya di Solo. Bebeknya mak nyuss. Sambalnya dahsyat. Semua bebek mau tidak mau terpaksa dipatok standarnya berdasarkan bebek Solo itu. Bebek Bukittinggi berada satu garis tipis di bawah bebek Solo ini. Semua yang lain lalu menjadi so-so. Padahal, dulu Banjarmasin punya r
  • 27

    Jan

    Martabak Terbalik

    Tak perlu diperdebatkan, martabak adalah salah satu jajanan populer di Indonesia. Di setiap kota Indonesia, dengan mudah kita menemukan martabak dijajakan di mana-mana. Jenis martabak yang paling umum kita jumpai adalah martabak Malabar, yaitu martabak telur model muslim India. Kebanyakan memakai telur bebek untuk mendapatkan body yang lebih mantap dan aroma yang khas, diisi daging kambing cincang berbumbu kari, dan rajangan daun bawang. Versi lain yang kurang garang memakai telur ayam dan daging sapi. Adonan ini dibungkus dengan kulit tipis yang dibuat dari tepung terigu, dan digoreng garing membentuk kue berbentuk bantal, dan kemudian dipotong-potong menjadi ukuran kecil (bite size). Di Malaysia, martabak (dieja sebagai murtabak) tidak dipotong-potong rapi, melainkan dihancurkan ketik
  • 27

    Jan

    Rujak Blang Bintang

    Kembali ke Banda Aceh, saya menemukan suasana baru di kota yang pernah porak poranda diterjang tsunami. Salah satu pemandangan yang berbeda adalah suasana malam hari di Banda Aceh. Bila dulu kehidupan malam Banda Aceh terbatas di sekeliling Masjid Baiturrahman khususnya para penjual sirih-pinang yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda, kini kedua tepi jalan utama Banda Aceh menjadi meriah dengan warung-warung malam. Tidak lesehan, karena ini memang bukan di Jawa. Para pedagang menempatkan kursi-kursi plastik bersandaran, sehingga pengunjung dapat duduk santai. Puluhan gerobak penjual burger melayani pelanggan masing-masing. Mungkin inilah berkah dari tsunami, kata Bang Zul, pengemudi taksi ASA. Habis tsunami, datang damai. Sekarang penduduk Banda Aceh berani keluar malam. Kunjunga
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post