Bandung Kota Kuliner

25 Feb 2011

Belum lama ini saya ikut serta dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Departemen Perdagangan dalam rangka Pekan Produk Budaya. Seorang peserta seminar menyatakan bahwa Bandung adalah Kota Kuliner. Setiap akhir pekan warga Jakarta ngadem ke Bandung, tidak hanya memborong dagangan factory outlets yang bertebaran di sana, melainkan juga berburu makanan.

Peta kuliner Bandung memang sepermai kotanya, serta sangat dinamis. Tiap kali kita datang ke Bandung, selalu saja ada tambahan tempat makan baru yang menarik dan menantang untuk dicoba. Sekalipun bondong-bondong kedatangan warga Jakarta ke Bandung di akhir pekan membuat lalulintas kota ini menjadi semrawut dan macet, tetapi justru kehadiran warga Ibukota Negara-lah yang telah mewarnai ekonomi Bandung secara nyata.

Minggu ini saya sempat ke Bandung lagi. Di antara kepadatan jadwal kerja, bagaimana mungkin menolak undangan belasan warga komunitas Jalansutra di Bandung yang ingin menraktir kepala suku mereka? Jadilah! Sekalipun last minute, delapan orang JS-ers hadir malam itu di Rumoh Makan Raja Melayu. Seorang di antaranya adalah JS-er dari Jakarta, Lidia Tanod. Hebring memang Sienny yang jadi walikota JS Bandung dan mampu mengumpulkan warganya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ada Flora yang dokter syaraf, ada Bill yang juga dokter tetapi berprofesi TI, ada Janti yang pernah tinggal di Phuket dan Bali, Ruth, Aisa, dan Tita yang dosen ITB dan baru kembali dengan gelar doktor dari Negeri Belanda. Ni Fi, alias Sofia Mansoor, yang dianggap sesepuh JS-ers Bandung tidak bisa hadir karena pemberitahuan terlalu mendadak.

sebagian sajian raja melayu

sebagian sajian raja melayu

Raja Melayu sesuai dengan namanya memang mau menunjukkan bahwa masakan Melayu bukan cuma masakan Minang. Rumah makan yang ditata apik ini menyajikan hidangan Sumatra dari Aceh sampai Lampung. Tiap hari tersaji sekitar 70 macam masakan dari sekitar 180 macam masakan yang berganti-ganti kehadirannya.

Setelah semua berkumpul, kami langsung menyerbu meja tempat makanan dihidangkan. Sebuah meja makan di dekat pintu masuk dipakai sebagai tempat untuk men-display semua masakan yang tersedia hari itu. Tetapi, bukannya langsung memilih, banyak di antara kami yang malah sibuk memotreti hidangan-hidangan itu. Betul-betul satu tradisi Jalansutra yang khas. Tradisi ini diawali oleh Arie Parikesit yang tidak pernah lupa memotret secara up close and personal setiap masakan yang disajikan.

Baru setelah puas memotret, kami memilih sajian mana yang akan diboyong ke meja. Tamu tidak mengambil sendiri sajian, karena di sini memang tidak berlaku sistem buffet atau prasmanan. Bila tertarik pada satu sajian, maka kita tinggal memberi tahu pramusaji, dan dialah yang nanti akan membawanya ke meja dalam porsi standar.

Karena, konon, sajian juara di Raja Melayu adalah gulai kepala ikan, maka masakan itulah yang pertama dipesan. Saya memilih teri-pete cabe hijau dan dendeng uci adi yang katanya khas Aceh, tetapi berpenampilan sangat mirip dengan dendeng batokok dari Sumatra Barat. Kedua sajian pilihan saya itu ternyata tidak terlalu istimewa. Dendengnya bahkan agak mengecewakan, sekalipun penampilannya sangat menarik.

Pilihan teman-teman lain yang tersaji di meja cukup beragam. Tidak heran bila gulai kepala ikan jadi hidangan favorit di restoran ini. Kualitasnya memang boleh dipuji. Patin asam padeh-nya juga lumayan. Martabak dan roti canai Raja Melayu pesanan Tita tidak termasuk yang direkomendasikan. Tetapi, yang lain-lain boleh tahan.

Secara khusus saya justru sangat menyukai sayur daun ibu tumbuk dari daun singkong yang rasanya memang sangat khas. Sebetulnya sayur ini merupakan bagian dari kuliner Tapanuli baik Utara maupun Selatan. Tetapi, hampir semua rumah makan Melayu Deli juga menyediakan sayur ini. Di Medan, sayur daun ubi tumbuk biasanya memakai rimbang yang bulat-bulat mirip gandaria. Dengan santan tipisnya yang khas, sayur daun ubi tumbuk Raja Melayu sangat otentik dengan versi aslinya. Rasa bunga kincung-nya (kecombrang, honje) sangat nendang.

Sajian lain yang saya anggap spesial adalah bagar daging dari Lampung. Saya hanya menebak-nebak sendiri proses pembuatannya. Dagingnya dipilih dari bagian dada sapi yang berlemak dalam bahasa Jawa disebut sandung lamur, dan orang Minang menyebutnya gajebo. Daging ini dimasak dalam bumbu mirip kari bersantan kental. Kemungkinan sekali, daging yang sudah empuk dikeluarkan untuk dibakar atau dipanggang sebentar, kemudian dimasukkan kembali ke dalam kuah kari untuk diteruskan pemasakannya. Citarasanya yang kompleks sungguh indah.

Sekalipun Raja Melayu juga menyajikan masakan Aceh, ada dua rumah makan lain di Bandung yang menyajikan masakan khas Aceh. Keduanya berada di bawah bendera yang sama, yaitu Gampoeng Aceh. Gerai pertama rumah makan ini berlokasi di Dago Pakar, sedangkan yang kedua adalah di Ciumbuleuit, tepat di seberang Galeri Ciumbuleuit Apartment. Uniknya, kedua rumah makan ini buka 24 jam.

Kalau Raja Melayu berkelas restoran dengan berbagai macam sajian, Gampoeng Aceh berkelas rumah makan dengan sajian terbatas. Sajian khas Aceh yang tersaji antara lain adalah mi kepiting, nasi goreng, nasi kari kambing, dan nasi kari bebek. Ada juga berbagai roti canai sebagai pilihan hidangan ringan.

Dalam kunjungan sebelumnya ke Bandung saya sempat mencicipi kari kambing Gampoeng Aceh, tetapi agak kecewa karena penampilannya saja tidak mirip kari kambing asli versi Aceh yang warnanya merah dan citarasanya kaya. Machtig! Strong! Kari kambing di Gampoeng Aceh warnanya kekuningan, tidak merah kecoklatan seperti di Aceh sana. Rasanya pun tidak setajam dan sekompleks versi aslinya. Daging kambingnya juga tidak empuk-empuk amat.

Sajian Gampoeng Aceh yang saya sukai adalah roti canai yang disajikan dengan fla durian. Roti canai-nya otentik. Fluffy dan berminyak. Fla durian sebagai cocolannya beraroma bagus, dengan rasa lembut yang menyenangkan. Mereka yang tidak suka sengatan aroma dan citarasa durian pun mungkin akan menyukai fla durian ini untuk mulai mengenali buah yang memang termasuk kategori difficult to love ini.

Sekalipun malam itu kami bergembira kumpul dan makan bersama di Raja Melayu, kami juga menundukkan kepala bagi Pahlawan Kesehatan Dokter Erina, adik aktivis JS Harry Nazaruddin, yang gugur ketika menjalankan tugasnya di Fakfak, Papua Barat, pada usia yang masih sangat belia. Saya juga sempat memberi penghormatan terakhir kepada jenazah yang disemayamkan di sebuah rumah duka di Bandung. Dua minggu sebelum meninggalkan kita semua, Erina sempat menulis di milis Jalansutra tentang Fakfak. Dalam tulisannya itu terasa sekali betapa ia bahagia tinggal dan melayani sesama manusia di Papua. Sekarang, tentulah ia akan lebih berbahagia bersama Bapa Kudus.

Selamat jalan, Erina! We love you!


TAGS bondan winarno pak bondan kuliner bandung


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post